Ilzam, AI-Native Software Engineer

Ilzam

AI-Native Software Engineer

By Ilzam

Ketika C-level kembali ngoding, lalu bagaimana nasib software engineer?

Tulisan ini bukan yet another larping yang lagi marak, wala (lan ora) tentang jasa bikin website 500 ribu jadi pakai LLM, wala tentang kemarau proyek yang tengah melanda dunia pengembangan perangkat lunak. Ini tentang fenomena yang al-faqir (nama alias penulis, sengaja pakai bahasa Arab biar kelihatan pernah mondok) hadapi setelah lulus kuliah. Ternyata menjadi dewasa tidak menyenangkan, iklan itu berbohong pada Anda...

Jadi begini ceritanya

Tanggal 14 September pukul 20:00, saya meluncur ke Shelterville (sebelum akhirnya tempat itu kena musibah kebakaran) untuk silaturahmi dengan Pak Eko, ex-CTO Sekawan Media. Ya seperti template basa-basi dua pria dewasa yang normal: tanya kabar, kesehatan, keluarga. Baru setelah itu masuk beberapa ronde diskusi software engineering yang cukup menarik.

Info penting ga penting: Pak Eko dulunya software engineer aktif. Asli, bukan abal-abal, jago lah pokoknya.

Poin pentingnya: karena pekerjaan beliau sekarang lebih ke manajerial, tugas coding beliau didelegasikan ke orang lain. Dan di sanalah loker fullstack engineer dulu bermula.

Setidaknya menurut al-faqir, lowongan pekerjaan tercipta ketika:

  1. Orang butuh keahlian yang tidak dia miliki. Contoh: dokter, arsitek.
  2. Orang tidak punya waktu mengerjakannya sendiri. Contoh: sekretaris.
  3. Ya biar perusahaannya kelihatan keren aja. Invent title, terus open job posting di LinkedIn (ini jaman ZIRP, aka duit murah, aka bikin CRUD aja di-funding).

Oke, lanjut. Pak Eko yang awalnya belum pakai Claude akhirnya pakai Claude. Kita memang cukup intens sharing masalah teknis, jadi saya sarankan lah yang namanya Claude Code, lengkap dengan segala tips and trick-nya. Pas ketemu lagi malam itu, ternyata beliau sudah aktif ngoding lagi. Sudah bikin beberapa website, bahkan dipakai buat bantu daily activity beliau.

Beliau sampai bilang:

"Lah ini dulu tak delegasikan ke anak-anak, sekarang sudah bisa tak coding sendiri, pakai Astro, lebih cepat dari WordPress."
"Iki loh, aku kemarin beli plugin WordPress, tahu gitu tak coding sendiri pakai Claude."

Telaah lagi kata-kata beliau. Dua kalimat itu saja sudah mengancam berapa info loker yang tidak jadi dibuat, dan berapa plugin WordPress yang tidak jadi terjual :D

Obrolan berhenti sejenak karena Pak Arya menelepon, lalu lanjut Google Meet bahas beberapa issue teknikal. Rupanya beliau, yang dulu juga programmer lalu naik ke posisi manajerial, sudah fasih pakai Claude. Cukup sering bikin mini-apps, web, atau platform untuk kebutuhan bisnis beliau sendiri.

See, berapa lagi info loker programmer yang tidak jadi dibuat :D

Sekarang coba lihat lagi daftar tiga alasan di atas. Al-faqir curiga, job software engineer awalnya tercipta dari opsi 1 (butuh keahlian), lalu pelan-pelan bergeser ke opsi 2 (butuh delegasi). Atau jangan-jangan sebagian besar malah opsi 3 :D

Asumsi 2020 di tahun 2026

Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan software engineer. Semua berjalan baik-baik saja. Kesalahannya mulai ketika kita masih pakai asumsi tahun 2020 di tahun 2026.

Dulu, mungkin jaman Jokowi periode kedua atau sebelumnya, hambatan utama development software tidak lain dan tidak bukan adalah menulis code itu sendiri. Orang masih ngetik line by line, function by function (iya, jaman di mana kita debat bahasa pemrograman sampai level sektarian). Dari situ muncul metodologi untuk mengatur pengembangan software biar efisien: waterfall lah, agile lah, scrum lah, you name it. Semuanya berdiri di atas satu asumsi: software engineer ngetik code secara manual.

Lalu bagaimana di era post-LLM, ketika cost of typing the code jadi sangat murah dan cepat?

Apa iya masih perlu sprint planning 2 hari hanya untuk mengerjakan CRUD + filter + export? (menyindir diri sendiri)

Apa yang menghalangi backend ngerjain frontend? Dulu sudah terbantu Tailwind, ditambah shadcn, sekarang ditambah AI agent.

Apakah software engineer cuma akan jadi makelar antara kebutuhan klien dengan Claude Code? Follow up-nya: emangnya sejago apa kita?

Masih worth it kah kerja sebagai software engineer?

Bagaimana masa depan software engineer?

Dan berbagai pertanyaan lain yang muncul sepanjang Jalan Bungur arah pulang dari Shelterville.

Tukang bangunan lebih produktif

Ditambah lagi, dari pengamatan saya selama ini, ternyata ngga semua software engineer care dengan bagian "engineering" di pekerjaannya. Either mereka:

Mereka ngga care performa, ngga care quality, kurang banyak keyword yang dikuasai, terlalu rely ke AI, atau malah terlalu sibuk dengan tooling without delivering real result.

Sampai saya pernah mikir, sepertinya lebih produktif tukang bangunan. Di depan kampus saya ada pembangunan gedung BRI, dan di waktu yang sama ada proyek software yang sedang dikerjakan. Ternyata lebih cepat membangun gedung BRI daripada membuat software-nya. Is this a joke? Tukang bangunan tahu persis apa yang mau dibangun, lalu membangun. Kita masih sprint planning.

Nah, ini yang mau al-faqir bedah lebih dalam. Karena ini bukan cuma soal "AI mengancam pekerjaan". Ini simptom dari masalah yang sebenarnya sudah lama ada, cuma baru sekarang ketahuan karena lamanya ngetik code sudah bukan masalah lagi.

Volume is not velocity

AI tidak pernah benerin proses yang jelek. Dia cuma bikin arah yang sudah kepilih itu nyampe lebih cepat, termasuk kalau arahnya salah. Berapa banyak AI slop yang sudah Anda hasilkan? (menyindir diri sendiri, lagi)

AI tidak pernah bilang tidak ke hal bodoh yang kita prompt. It just nods, says yes, great idea.

AI ngga akan berhenti terus bilang, "Eh bentar, ini seharusnya cuma 1 hal, kok jadi 5." Dia bakal tetap produksi kelima-limanya. Rapi, ber-test, ber-dokumentasi, selesai dalam 2 hari, and it breaks when you use it.

Volume produktivitas bisa melonjak tinggi, tapi kalau berdiri di atas keputusan yang salah, ribuan baris yang ditulis Claude jadi sampah (berdasarkan kisah nyata penulis).

Volume is not velocity. Velocity should have direction.

Banyak konsep dijual sebagai sesuatu yang baru dan canggih, padahal cuma ganti nama dari sesuatu yang sudah ada. Barang yang harusnya selesai 1 hari kalau Anda tahu yang namanya materialized view, bisa jadi 1 bulan karena AI model Anda menyarankan workaround lain. Dan workaround itulah yang jadi bom waktu.

Kembali ke "engineering"

Balik ke tiga alasan loker tadi. Opsi 2 sudah diambil Claude: Pak Eko dan Pak Arya sekarang punya waktu, karena ngetik sudah bukan urusan lama. Opsi 3 sudah habis bareng duit murahnya. Yang tersisa tinggal opsi 1: keahlian yang orang lain tidak punya.

Dan keahlian itu bukan ngetik. Keahlian itu tahu arah, tahu kapan bilang tidak, tahu bahwa 5 hal itu seharusnya cuma 1, tahu bahwa materialized view itu ada.

Jadi kembali ke "engineering", bukan "tooling" atau "frameworking". Nama tool ganti tiap beberapa tahun, harness bulan ini bisa jadi sudah ngga relevan tahun depan. Tapi computer science fundamental ya itu-itu aja dari dulu.

Salam.

Related

All Founder Decisions notes →

Masih mau bangun tim engineering yang kerjanya engineering, bukan tooling theater?

That's exactly what the advisory session is for.

Book an Advisory Session